Hipertiroidisme

Tirotoksikosis ialah manifestasi klinis kelebihan hormon tiroid yang beredar dalam sirkulasi. Hipertiroidisme adalah tirotoksikosis yang diakibatkan oleh kelenjar tiorid yang hiperaktif. Apapun sebabnya manisfestasi kliniknya sama, karena efek ini disebabkan ikatan T3 dengan reseptor T3-inti yang makin penuh. Rangsang oleh TSH datau TSH-like substances (TSI, TSAb), autonomi instrinsik kelenjar menyebabkan tiroid meningkat, terlihat dari radioactive neck-uptake naik. Sebailknya pada destruksi kelenjar misalnya karena radang, inflamasi, radiasi, akan mterjadi kerusakan sel hingga hormon yang tersimpan dalam folikel keluar masuk dalam darah. Dapat pula karena pasien mengkonsumsi hormon tiroid berlebihan. Membedakan ini perlu, sebab umumnya peristiwa kedua ini, toksikosis tanpa hipertiroidisme, biasanya self-limiting disease.
Prinsip pengobatan tergantung etiologi tirotoksikosis, usia pasien, riwayat alamiah penyakit, tersedianya modalitas pengobatan, situasi pasien (misalnya : apakah ia ingin punya anak dalam waktu singkat?), risiko pengobatan, dsb. Perlu diskusi mendalam dengan pasien tentang cara pengobatan yang dianjurkan.
Bacaan yang direkomendasikan :

  1. Djokomoeljanto R. Kelenjar tiroid, hipotiroidisme dan hipertiroidisme. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h. 2003- 4
  2. Jameson JL, Weetman AP. Disorders of the thyroid gland. Dalam : Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Loscalzo J, Braunwald E, Hause SL, Jameson JL. Penyunting. Harrison's principles of internal medicine. Edisi ke-17. New York :Mc Graw- Hill;2005.h.2224-29.
  3. Bernt GA. Graves' disease. N Engl J Med. 2008; 358:2594-605 Cooper DS. Antithyroid drugs. N Engl J Med. 2005; 352:905-17Roos DS. Radioiodine therapy for hyperthyroidism. N Engl J Med. 2011; 364:542- 50