Renjatan Anafilaktik

Syok anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinik dari anafilaksis yang ditandai dengan adanya hipotensi yang nyata dan kolaps sirkulasi darah. Istilah syok anafilaktik menunjukkan derajat kegawatan, tetapi terlalu sempit untuk menggambarkan anafilaksis secara keseluruhan, karena anafilaksis yang berat dapat terjadi tanpa adanya hipotensi, dimana obstruksi saluran nafas merupakan gejala utamanya.

Tanpa memandang beratnya gejala anafilaksis, sekali diagnosis sudah ditegakkan pemberian epinefrin tidak boleh ditunda-tunda. Hal ini karena cepatnya mula penyakit dan lamanya gejala anafilaksis berhubungan erat dengan kematian. Dengan demikian sangat masuk akal bila epinefrin 1 : 1000 yang diberika adalah 0, 01 ml/kgBB sampai mencapai maksimal 0,3 ml subkutan (SK) dan dapat diberikan setiap 15-20 menit sampai 3-4 kali seandainya gejala penyakit bertambah buruk atau dari awalnya kondisi penyakit sudah berat, suntikan dapat diberikan secara intramuskuler (IM) dan bahkan kadang-kadang dosis epinefrin dapat dinaikkan sampai 0,5 ml sepanjang pasien tidak mengidap kelainan jantung.

Bacaan yang direkomendasikan :

  1. Rengganis I, Sundaru H, Sukmana N, Mahdi D. Renjatan anafilaktik. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h. 257-61.
  2. Austen KF. Allergies, anaphylaxis, sistemic mastocytosis. Dalam : Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Loscalzo J, Braunwald E, Hause SL, Jameson JL. Penyunting. Harrison's principles of internal medicine. Edisi ke-17. New York :Mc Graw-Hill;2005.h.2061-70.
  3. Simon FER, Ardusso LRF, Bilo MB, Dimov V, Ebisawa M, El-Gamal YM, et al.2012 update: World Allergy Organization guidelines for the assessment andmanagement of anaphylaxis. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2012; 12:389–399 Simons FE, Ardusso LR, Dimov V, Ebisawa M, El-Gamal YM, Lockey RF. World Allergy Organization Anaphylaxis Guidelines: 2013 update of the evidencebase. Int Arch Allergy Immunol. 2013;162:193-204